Ayam jago selama ini dikenal sebagai alat aduan. Bahkan di beberapa tempat dijadikan sarana berjudi. Namun di tangan Ny Rismiyati (31), ayam jago diolah menjadi tongseng dan gulai yang sangat lezat setelah direbus dan diberi aneka bumbu. Hasil olahan ibu dua anak ini hanya ditemukan di Warung Sudimoro, Jl Jendral Sudirman Nomor 2, Bantul Yogyakarta. Tepatnya di sebelah selatan Pasar Bantul dan bisa ditempuh menggunakan kendaraan roda empat dengan jalan sangat mulus berjarak kurang lebih 15 km dari kota Yogyakarta.
''Sesampai di Pasar Bantul, tanya kepada siapa pun. Mereka pasti tahu. Sebut saja yang jual tongseng ayam jago,'' tutur penggemar asal Yogyakarta seperti dikutip Harian Kompas, Ahad (25/1/2009).
Warung Sudimoro buka pukul 08.00-15.00 WIB. Pada jam makan siang, jangan harap dapat menemukan segera tempat duduk. Padahal di situ ada puluhan kursi yang mengelilingi lima meja dan dua bangku panjang berkapasitas delapan orang. Di bagian luar juga ada kursi dan bangku jika tempat duduk di dalam sudah penuh.
Penggemar asal dari Malaysia, kata Rismiyati, datang ke Yogyakarta sebulan sekali. Mereka datang ke Bantul dengan membawa teman yang bergantian.
Untuk membuat tongseng ayam jago tidak membutuhkan waktu yang lama, karena semua bahan sudah tersedia. Yang paling lama justru merebus ayam jago yang bisa mencapai dua hingga tiga jam agar mendapatkan daging yang empuk. Ayam jago yang tua membutuhkan waktu lama dibandingkan dengan yang muda.
Kaldu tongseng tidak diambilkan dari hasil rebusan ayam jago. Namun dibuat tersendiri, karena kaldu rebusan ayam jago sudah diambil pedagang soto. Untuk menikmati tongseng atau gulai plus segelas teh gula batu dan jog teh (tambahan secangkir seduan teh) cukup mengeluarkan uang Rp 8.000. Jika dengan irisn jerohan ditambah Rp 4.000.







