Keterbatasan dana tidak membuat warga Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kehilangan akal. untuk bisa mengakses internet. Mereka menggunakan antene ''wajanbolic'' sebagai penangkap jaringan internet. Karena bahannya dari wajan (tempat penggorengan) maka disebut antene 'wajanbolic.'' Penggunaan wajan ini sangat murah dan bisa dijangkau masyarakat.
Ide ini berawal dari bantuan internet sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) kepada Radio Komunitas Angkringan tahun 2005 lalu. Para pengelola radio berfikir bagaimana untuk menyebarkan koneksi tersebut kepada masyarakat sekitar.
''Kami melihat sangat mubadzir bila yang mengakses internet hanya pengelola radio. Padahal masih banyak yang membutuhkan. Banyak mahasiswa dan pelajar yang datang ke sekretariat radio hanya untuk mengakses internet,'' kata Jaswadi, anggota komunitas Angkringan Desa Timbulharjo seperti dikutip Harian Kompas (22/12/2008) lalu.
Berdasarkan animo masyarakat ini, pengelola radio berencana menyalurkan internet ke rumah-rumah warga. Awalnya, pengelola tidak yakin bisa menyalurkan jaringan internet tersebut. Kendalanya, beaya yang dibutuhkan sangat banyak dan masyarakat tidak mampu menyediakan.
Misalnya, untuk menyediakan antena grid membutuhkann dana Rp 750 ribu. Belum lagi USB wireless dan peralatan pendukung lainnya. Mereka pun akhirnya patah semangat.
Kemudian mereka mendengar informasi tentang teknologi ''wajanbolic'' di media cetak dan televisi. Niat itu kemudian muncul lagi. Mereka kemudian mengumpulkan literatur tentang teknologi ''wajanbolic'' dan pembuatannya.
Meskipun harus melakukan trial and error berkali-kali mereka tetap bersemangat. Akhirnya, tahun 2007 tercipta antene ''wajanbolic'' pertama dan diujikan di salah satu dusun. Hasilnya koneksinya sangat lancar dan memuaskan.
Antene ''wajanbolic'' berfungsi sebagai pengganti antene grid. Artinya beaya pengadaan antene grid bisa ditekan sangat rendah.
Sebab untuk membuat antene ''wajanbolic'' dibutuhkan wajan almunium atau stainless, pipa pralon diameter 10 Cm, almunium foil, dan kawat kuningan. Antene tersebut masih dilengkapi dengan USB wireless atau radio wireless. ''Kalau USB jangkauan koneksi sekitar 15 meter, radio bisa mencapai 100 meter. Harga USB sekitar Rp 450 ribu, sedang radio sekitar Rp 800 ribu,'' katanya.
Sebagian besar yang dipasang di Desa Timbulharjo jenis USB. Sehingga rumah-rumah yang letaknya kurang dari 15 meter dari antena bisa mengakses internet. Kini 13 dari 16 Dusun telah tersambung internet menggunakan koneksi ''wajanbolic.'' ***








